Minggu, 20 Maret 2011

mesin pendingin


I. PENDAHULUAN


Buah-buahan, sayur-sayuran, daging dan makanan lainnya merupakan produk pangan yang dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat lama, maka perlu diawetkan di dalam lemari es atau mesin pendingin lain yang dalam istilah teknik disebut  refrigerator (kulkas) telah memberikan banyak manfaat dalam kehidupan manusia.
Pada dasarnya refrigerasi dapat terjadi secara alami (natural refrigeration) dan mekanik (mechanical refrigeration). Suatu pengkondisian udara yang terjadi secara alami dapat diibaratkan seperti es batu yang digunakan untuk mendinginkan suatu zat, tetapi disini suhu dari es tidak dapat dijaga konstan akibat pengaruh dari suhu lingkungan. Sedangkan pengkondisian udara secara mekanik yaitu pengkondisian udara yang menggunakan alat-alat mekanis yang disusun dari beberapa komponen yang membentuk suatu sistem pendinginan.
Produksi es alam kemudian mengalami masalah besar dengan banyaknya populasi dan pembuangan limbah sumber penghasilan es yang memenuhi syarat menjadi sangat sulit didapat, para ahli kemudian kembali berkonsentrasi pada teknik refrigerasi, tidak lama kemudian mereka berhasil memberikan solusi untuk masalah tersebut dengan cara memproduksi es buatan, yang melahirkan penemuan refrigerator mekanik.
Pada proses pengkondisian kompresi uap, terjadi perpindahan panas antara fluida pendingin dengan fluida yang akan didinginkan untuk menjaga suhu dari sistem yang didinginkan. Proses pertukaran panas ini berlangsung dalam suatu komponen pada sistem kompresi uap yang dinamakan dengan evaporator. Evaporator adalah komponen yang paling bertanggung jawab dalam mendinginkan fluida yang akan ditransfer ke sistem. Pada sistem kompresi uap selain evaporator ada komponen lain yang, sangat berperan yaitu kondensor, kompresor dan katup ekspansi dimana dengan adanya komponen-komponen ini maka sistem akan berfungsi dengan baik.
Pembekuan didasarkan pada dua prinsip yaitu 1).Suhu yang sangat rendah menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperlambat aktivitas enzim dan reaksi kimiawi dan 2). Pembentukan kristal es yang menurunkan ketersediaan air bebas di dalam pangan sehingga pertumbuhan mikroorganisme terhambat.
Pada beberapa bahan pangan, proses blansir perlu dilakukan sebelum pembekuan untuk menginaktifkan enzim penyebab pencoklatan. Pada skala domestik, pangan yang akan dibekukan diletakkan didalam freezer, dimana akan terjadi proses pindah panas yang berlangsung secara konduksi (untuk pengeluaran panas dari produk). Proses ini berlangsung selama beberapa jam, tergantung pada kondisi bahan pangan yang akan dibekukan. Di industri pangan, telah dikembangkan metode pembekuan lainnya untuk mempercepat proses pembekuan yang memungkinkan produk membeku dalam waktu yang pendek. Pembekuan cepat akan menghasilkan kristal es berukuran kecil sehingga akan meminimalkan kerusakan tekstur bahan yang dibekukan. Selain itu, proses pembekuan cepat juga menyebabkan terjadinya kejutan dingin (freeze shock) pada mikroorganisme dan tidak terjadi tahap adaptasi mikroorganisme dengan perubahan suhu sehingga mengurangi resiko pertumbuhan mikroorganisme selama proses pembekuan berlangsung.
Tiga metode pembekuan cepat tersebut adalah: a). Pembekuan dengan aliran udara dingin (blast freezing): bahan pangan yang akan didinginkan diletakkan dalam freezer yang dialiri udara dingin (suhu -40oC atau lebih rendah lagi); b). Pembekuan dengan alat pindah panas tipe gesekan (scraped heat exchanger): produk (misalnya ice cream) dibekukan dengan metode ini untuk mengurangi pembentukan kristal es berukuran besar. Produk digesekkan pada permukaan pendingin dan kemudian segera dibawa menjauh. Proses ini dilakukan secara berulang dan c). Pembekuan kriogenik (cryogenic freezing) dimana nitrogen cair (atau karbon dioksida) disemprotkan langsung pada bahan-bahan pangan berukuran kecil seperti udang atau strawbery. Karena cairan nitrogen dan karbon dioksida mempunyai suhu beku yang sangat rendah (berturut-turut -196oC dan -78oC) maka proses pembekuan akan berlangsung spontan.



II. PEMBAHASAN

A.    Sistem Kompresi Uap
                  Produksi Es batangan dalam skala industri ini merupakan amplikasi dari refrigerasi sistem kompresi uap. letak mesin pendingin pada pabrik pembuatan es ini berdampingan dengan bak es, tabung amoniak dan panel listrik. disamping itu juga terletak ruang yang tertutup oleh lingkungan luar, posisinya sangat baik dengan operator bila ditinjau proses pengoperasinya,dimana operator lebih cepat dan lebih mudah sewaktu pengoperasian mesin.
                  Secara umum dalam sistem mesin pendingin kompresi uap ini memiliki komponen-komponen utama yang terdapat pada sistem ini yaitu: motor pengerak/refrigeran, kompresor, evaporator/ pipa penguapan, kondensor, saringan, katup ekspansi/ pipa kapiler,  dan katup ekspansi. Akan tetepi sistem kompresi uap yang di gunakan pada pabrik es ini selain komponen utama, juga memiliki komponen penting lainnya seperti resiver, akumulator dan cooling tower yang dapat melancarkan kinerja sistem, dimana disetiap komponen ini keterkaitan berfungsinya sebagai pendukung kerja koponen utama, agar dapat mendapatkan efesiensi kinerja sistem untuk hasil produksi yang maksimal dalam pembuatan es.
B.     Syarat-Syarat Refrigeran ( Bahan pendingin )
                  Untuk terjadinya suatu proses pendinginan diperlukan suatu bahan yang mudah dirubah yang mudah-mudah dirubah bentuknya dari gas menjadi cair atau sebaliknya (refrigeran) untuk mengambil panas dari evaporator dan membuangnya di kondensor. Karakteristik thernodinamika refrigerant antara lain meliputi temperature penguapan, tekanan penguapan, temperatur pengembunan. Untuk keperluan suatu jenis pendinginan (misal untuk pendinginan udara atau pengawet beku) diperlukan refrigeran dengan karakteristik termodinamika yang tepat. Adapun syarat-syarat untuk refrigerant adalah:
1.          Tidak meracun dan tidak membau merangsang.
2.          Tidak dapat terbakar atau meledak bila tercampur dengan udara, pelumas dan 
        sebagainya.
3.          Tidak menyebabkan korosi terhadap bahan logam yang dipakai pada sistem
        mesin pendingin.
4.          Bila terjadi kebocoran mudah di cari.
5.          Mempunyai titik didih dan kondensasi yang rendah.
6.          Mempunyai susunan kimia yang stabil,tidak terurai setiap kali di  
        mamfaatkan, diembunkan dan diuapkan.
7.          Perbedaan antara tekanan penguapan dan tekanan penguapan ( kondensasi ) 
        harus sekecil mungkin.
8.          Mempunyai panas laten penguapan yang besar, agar panas yang diserap  evaporator yang sebesar-besarnya.
9.          Tidak merusak tubuh manusia.
10.      Konduktivitas thermal yang tinggi.
11.      Visikositas dalam fase cair maupun fase gas rendah agar tahanan aliran refrigerant dalam pipa sekecil mungkin.
12.      Konstanta dielektrika dari refrigerant yang kecil, tahanan lisrik yang besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik,
13.      Harganya tidak terlalu mahal dan mudah diperoleh.
                  Adapun kelebihan dan kekurangan amoniak adalah sebagai berikut :
Keuntungan :
1.          Mempunyai sifat termodinamika yang baik.
2.          Sangat efisien.
3.          Tidak korosif terhadap besi atau baja.
4.          Harganya murah.
5.          Dapat dgunakan sistem absorpsi dan kompresi.
Kerugian :
1.          Memerlukan tekanan sitem (uap panas)
2.          Korosif terhadap macam paduan logam.
3.          Efesiensi kurang karena adanya oferheating (kelebihan panas)
4.          Sangat berbahaya (beracun)
5.          Memiliki efektif terhadap bahan makanan, air dan tumbuhan
6.          Menyebabkan mual-mual bila tercium bau yang ditimbulkan    oleh amoniak.
                  Pada tabung ini terdapat ukuran tekanan amoniak (NH3). Tekanan tabung ini sebelumnya di fungsikan yaitu 19 PSi, tekanan yang berada pada tabung tidak boleh melebihi dari standar tekanannya, karena akan menyebabkan kompresor akan cepat rusak.
                   Pada awal amoniak bertekanan 19 psi pada tabung dialirikan ke tangki yang berada mesin kompresor, mengalir ke kondensor untuk di embunkan. Setelah membentuk cairan, amoniak mengalir ke receiver, sehingga di pastikan wujud dari amoniak ini cair di dalam receiver. Kemudian amoniak mengalir ke piranti ekspansi, amoniak mengalami ekspansi pada piranti tersebut dan berubah wujud menjadi uap basah yang bersuhu dan bertekanan rendah, dan mengalir ke evaporator yang merupakan pusat teradinya proses pendinginan. Dari proses yang terjadi pada evaporator amoniak mengalami perubahan fase yakni fase cair menjadi uap.uap yang di hasilkan dalam proses evaporator kemudian dihisap oleh kompresor untuk di kompresi lagi menuju kondensor akan tetapi tidak semua amoniak didalam kompresor mengalami ekspansi,karena didalam kompresor jumlahnya amoniak sebagian kecilkan akan di salurkan ke tangki pemuangan karena mengalami proses yang tidak sempurna, sehingga tidak dapat dipakai lagi oleh sistem.
                  Sedangkan untuk mengganti lagi amoniak yang telah berkurang dalam refrigerator, perlu di lakukan pengisian awal amoniak kedalam kompresor, dan cara pengisiannya sama seperti pada awal pengisian amoniak hanya saja perlu di perhatikan pada tekanan kompresor.
C.    Prinsip Kerja Mesin Pendingin
      Adapun komponen-kompenannya sebagai berikut :
1.       Kompresor
2.      Kondensor
3.      Saringan
4.      Penampung Refrigeran
5.      Katup ekspansi/pipa kapiler
6.      Evaporator
1.    Kompresor
                   Kompresor  adalah komponen yang merupakan alat pengerak yang dapat bertugas menghisap dan menekan refrigerant sehingga refrigerant beredar dalam unit mesin pendingin dan mengkompresinya sehingga tekanan uap refrigerant naik sampai ketekanan yang di perlukan untuk pengembunan (kondensasi) uap refrigerant kedalam kondensor.
                 







Gambar 1. Mesin kompresor
                   Generator ini letaknya berdekatan dengan kompresor karena bila ditinjau dari segi ekonomisnya lebih efisien. Karena dari generator penggerak ini adalah 65 KVh yang memiliki kecepatan putaran sebesar 1500 rpm, gerak pertama start yaitu 400 V dan listrik 3 fase.
1.1              Mekanisme Kompresor
                 Refrigerant yang menguap di dalam alat penguapan/evaporator akan memasuki saringan pengumpul (scele trap srener) melalui katup penghisap dari kompresor , saringan pengumpul ini berfungsi untuk mengumpulkan dan menyaring kerak-kerak refrigerant yang bergerak dari evaporator. Lalu uap refrigerant tersebut mengalir melalui saringan pengisap (suction strainer) dan memasuki rumah mesin (crankcase).                     
1.2 Oil Kompresor
              Oil di gunakan sebagai bahan pelumas, mesin sebagai pendingin mesin. Oil yang di gunakan pada pabrik ini adalah oil drum yang khusus di pesan dari pertamina yang yang berlanganan.
              Tekanan oil yang stabil pada mesin kompresor ini yaitu 2 kg/cm2.pengunaan oil yang di masukan kedalam kompresor jumlahnya sebanyak 25 liter untuk keseluruhan mesin. Dan untuk memastikan adalah pengkonsumsian oil tersebut sudah optimal.

2. Kondensor
   Kondensor merupakan salah satu alat atau komponen utama dari refrigerasi kompresi uap, jadi yang di katakan kondensor itu sendiri adalah suatu alat penukar panas yang berguna untuk mendinginkan uap refrigerant dari kompresor agar dapat mengembun menjadi cairan pada kondesor akan terjadi perubahan wujud, pada kondensor ini diusahakan adanya media pendinginan yang baik pada bagian kondensor akan membantu mempelancar terjadinya proses kondensasi (uap panas dari refrigerant berubah menjadi cairan, mengembun) pada saat pengembunan terjadi, refrigerant mengeluarkan sejumlah kalori (panas pengembun) yang mana panas ini diterima oleh media pendingin di dalam kondensor.
                 Penempatan kondensor harus pada tempat yang cukup luas, gas aliran udara tidak terhalang. Untuk lebih mempelancarkan sirkulasi udara, jadi fungsi kondensor yang digunakan pada pabrik Sri Budaya ini yaitu water cooled condenser, jenis ini merupakan konsensor yang menggunakan pipa dengan pendinginan air yang di bantu dengan cooling tower.
                                       Gambar 2. kondensor
                        Proses kerjanya adalah uap refrigerant yang bersuhu yang bertekanan tinggi menggalir melalui pipa antara sisi kompresor dan sisi masuk kondensor. Didalam kondensor terdapat pipa yan beralur zig-zag dengan sudut kelingkungannya 180oc, di dalam pipa kondensor refrigerant masuk dan mengalami proses pengembunan dan memberikan panas ke air sekitar lebih rendah temperaturnya, dan setelah itu refrigerant mengalir keluar perlahan-lahan akan berubah menjadi cair dan menunjukkan ke receiver yang merupakan tempat penampungan cairan refrigerant.
1.2    Cooling Tower
         Cooling Tower adalah salah satu keterkaitan langsung dengan pipa kondensor boleh di katan juga mesin pembuatan Es, Cooling Tower merupakan tempat mendinginkan air yang panas dari dalam kompresor, cara pendinginan yang dilakukan adalah dengan memakai kipas baling-baling dan saringan putaran kipasnya 440 rpm.
                            Gambar 3. Colling Tower
          
          Air yang telah ditampung di dalam Cooling Tower didinginkan oleh suhu sekitar, biasannya untuk mendinginkan air, Cooling Tower membutuhkan waktu selama 1 hari untuk mendapatkan suhu normal, menjaga kualitas air misalnya, agar tidak dapat algae/bacteria dan pengendapan (scelling) maka perlu di injeksikan beberapa jenis chemicels tertentu, kualitas air juga dijaga melalui mekanisme make-up dan down. Kemudian air yang telah dingin akan masuk kedalam bak penampung lainnya yang merupakan stok untuk membuatnya es batangan dan lain sebagainya.
2.          Saringan
                 Biasanya saringan terdiri atas silica gel dan screen. Silica gel berfungsi menyerap kotoran, air, sedangkan screen yang terdiri dari kawat kasa yang halus gunanya untuk menyaring kotoran dalam system umpamanya potongan timah, karet dan lain-lain. Jadi didalam system harus tidak ikut mengalir: air, asam serbuk/ kotoran-kotoran.
                 Pada kompresor hermatis apabila motor pengeraknya terbakar saringan harus diganti yang baru. Apabila kotoran-kotorannya akibat kawat terbakar tersebut akan melewati pipa kapiler atau keran ekspansi, akan mengakibatkan saluran buntu. Apabila pipa kapiler/keran ekspansi (refrigerant control) buntu maka tidak akan terjadi proses pendinginan,Sedangkan pada saat menyambungkan saringan dengan pipa kapiler/keran ekspansi, bagian saringan yang disambung dengan refrigerant control terletak sebaliknya lebih rendah di bandingkan dengan kondensor agar hanya refrigerant cair saja yang mengalir masuk ke pengontrol refrigerant.
3.          Penampung Refrigeran (Receiver)
        Receiver adalah suatu alat penampung yang berasal dari proses kondensasi oleh kondensor, setelah didalam pendingin mempunyai perubahan fase dari uap menjadi cair di dalam kondensor, refrigerant akan mengalir menuju receiver.fungsi alat ini yaitu sebagai alat penampung cairan refrigerant. Alat penampung ini memiliki kapasitas penampungan refrigerant sebesar 550 liter, yang dilengkapi dengan  pengukuran tekanan dan katup yang terdiri atas katup penerimaan dan katup pengalir cairan refrigerant , katup pada alat ini pengoperasiannya disesuaikan dengan tekanan, tekanan pada saat tinggi yang besar tekanannya pada keadaan pengoperasiaan pada kompresor dan pengembunan di kondensor.
             Gambar 4. Recever ( Penampung Refrigerant )
        Apabila tekanan refrigerant menurun akan mengakibatkan  siklus pada sistem kompresi uap oleh refrigerant ini akan menghambat,akan terjadi perubahan pada sistem  proses pendinginan.

4.          Katup Ekspansi / Pipa Kapiler
                Katup Ekspansi merupakan suatu alat yang berfungsi untuk menurunkan tekanan dari cairan refrigerant sebelum masuk ke evaporator, sehingga akan mudah refrigerant akan menguap di evaporator dan menyerap kalor (panas) dari media yang didinginkan. Pada  pipa ekspansi ini terdapat 3 buah katup pengontrol, tujuan dilakukannya cara ini agar cairan refrigerant tersebut terkontrol, stabil dan mencegah terjadinya perubahan fase dari sebuah refrigerant pada tabung, kemudian cairan refrigerant akan masuk piranti ekspansi akan mengalami ekspansi dan terjadi perubahan fase uap cair yang menjadi campuran uap basah. Suhu dan tekanannyapun akan menurun setelah proses ekspansi.
                       Gambar 5. Katup Ekspansi Termostatik
            Pipa kapiler digunakan untuk menurunkan tekanan  dan mengatur jumlah cairan refrigerant yang mengalir. Diameter pipa kapiler tergantung dari kapasitas mesin pendinginnya. Pada umumnya pengontrol refrigerant pada domestic refrigerator adalah pipa kapiler, penggunaan pipa kapiler pada mesin pendingin akan mempermudah pada waktu start. Karena dengan akan mempergunakan pipa kapiler pada saat sistem tidak bekerja tekanan pada kondensor dan evaporator cendrung sama, hal ini dapat mempermudahkan tugas kompresor pada waktu start.
4.1      Katup Espansi Termostatik
       Katup Ekspansi Termostatik digunakan pada sistem pendinginan majemuk. Dengan menggunakan sistem ini memungkinkan sistem majemuk untuk dapat memberikan suhu yang berbeda-beda pada beberapa kabinet. katup sistem ini juga biasanya digunakan pada penyegaran udara.
       Prinsip kerjanya katub ekspansi ini “Thermostatic”  di perlihat gambar di bawah ini :
 








       Gambar 6. Sistem Katub Espansi Termostatik
                Terdiri atas elemen (sensor) bola kecil yang diisi cairan khusus dengan ukuran yang tepat, elemen tersebut dihubungkan ke bodi melakukan pipa kapiler, bodi dibuat dari kuningan, menjadi tempat pertemuan pipa cairan dan pipa evaporator. Jarum dan dudukannya ( seat ) terletak dalam bodi. Jarum di hubungkan dengan belon metal yang fleksibel atau diafragma. Belon terbuat pada gilirannya bergerak oleh batang yang di hubungkan pada belon yang di berikan seat atau diafragma ( elemen power ) yang di hubungkan dengan bola sensor melalui pipa kapiler. Jika beban bertambah, maka cairan refrigerasi di evaporator akan banyak menguap sehingga besar suhu panas lanjut di evaporator akan menigkat. Pada akhir evaporator terletakkan tabung sensor suhu ( sensing bulb ) dari Katup Ekspansi Termostatik tersebut. Peningkatam suhu dari evaporator akan menyebabkan uap cairan yang terdapat pada tabung sensor. Akibatnya suhu panas lanjut di evaporator kembali pada keadaan normal, dengan kata lain suhu panas lanjut di evaporator dijaga tetap konstan pada segala keadaan beban.
5.           Evaporator
                Evaporator adalah komponen cairan yang masuk kedalamnya akan mengguap. Evaporator juga merupakan alat penukar panas refrigerant cair dengan tekanan rendah setelah proses ekspansi, di uapkan dalam evaporator ini. Untuk penguapan refrigerant cair ini tentu di perlukan sejumlah kalori, yang mana diambil dari media yang akan didinginkan oleh sistem refrigerant, misalnya pada kulkas media yang didinginkan adalah ruagan dalam kulkas dan sesuatu yang berada dalam kulkas. Uap refrigerant yang terbentuk di evaporator langsung dihisap oleh kompresor, demikian seterusnya mengulangi langkah pertama tadi sehingga terbentuk suatu siklus, yang disebut dengan siklus refrigerasi.
                               Gambar 7. Evaporator

            Pipa-pipa ini terbuat dari tembaga, hal ini disebabkan tembaga mempunyai sifat-sifat sebagai berikut ini :
-          Tembaga adalah logam yang sangat kuat, lunak sehingga mudah di bentuk
-          Tembaga tidak berkarat
-          Tembaga adalah penghantar panas yang baik, hal ini sangat penting untuk terjadinya proses pendinginan
-          Unsur logam besi yang telah dilapisi oleh lapisan yang bersifat anti karat.
                 Pada evaporator jenis ini seluruh bagian dalam evaporator selalu dibanjiri, atau bersentuhan dengan refrigerant yang berbentuk cair,terdapat sebuah tendon ( reservoir, low pressure receiver ), di mana cairan refrigerant terkumpul, dan dari bagian atas tendon tersebut uap refrigerant yang terbentuk dalam evaporator terhisap masuk ke kompresor.
        Pipa Evaporator terbagi atas 2 jenis yaitu:
1.      Pipa Induk primer
2.      Pipa Sekunder.

5.1   Pipa Induk Primer
                 Pipa Induk Primer adalah pipa primer ini terbagi atas dua pipa, dengan panjang masing-masing 6 meter, berdiameter 15 cm dan ketebalan 5 mm. fungsi dari pipa induk sekunder ini adalah sebagai penompang pipa sekunder, penyalur uap refrigerant dan alat pendingin.
6.2   Pipa Sekunder
                 Pipa Sekunder Merupakan mengalir refrigerant didalam proses pendinginan. Pipa ini terbentuk huruf “V” terdiri atas 6 potongan yang sama besar, demensi dari pipa sekunder ini memiliki panjangannya 1,5 meter, diameter 6 mm dan ketebalan 5 mm. pipa sekunder ini berfungsi sebagai penerima atau penyalur uap refrigerant dan sebagai alat pendingin. Secara keseluruhan evaporator ini memiliki panjang 6 meter.
6.3   Sistem Kerja Evaporator
                Di dalam Bak Pendngin/ dudukan evaporator, evaporator terpasang dengan posisi berdiri dan memanjang horizontal sepanjang 30 meter. Jumlah pemasangan evaporator secara keseluruhan yaitu 15 paket pipa evaporator, kemudian refrigerant masuk kedalam pipa tersebut melalui pipa penyalur yang berdiameter 5 cm, pipa penyalur tersebut terletak pada pipa evaporator. Kemudian menuju ke depan pipa induk dan evaporator dan menyebar keseluruh pipa sekunder.






                           Gambar 8. Proses Kerjanya Evaporator

                 Pada proses disini kalor (panas) yang berasal dari media yang akan didinginkan  diserap oleh cairan refrigerant, dan panas yang diserap dari bak pendingin dari bak es tersebut akan mengakibatkan perubahan fase refrigerant yakni fase cair menjadi uap ( kalor/panas laten ) tekanan yang ditetapkan yakni 236,5 KPa.

Panas yang dipindahkan ada 2 yaitu :
1.          Panas Sensible ( perubahan temperature )
                Temperature Refrigerant yang memasuki evaporator dari katup ekspansi harus demikian sampai temperature jenuh penguapan ( evaporator saturation temperature ). Setelah terjadi penguapan temperature uap akan meningalkan evaporator harus pipa dinaikkan untuk mendapatkan kondisi uap panas lanjut ( super-heated vapor ).
2.          Panas laten ( perubahan wujud )
         Perpindahan panas laten  ini terjadi penguapan refrigerant. Untuk diperlukan perubahan wujud diperlukan perpindahan wujud, diperlukan panas laten.maka adanya proses perpindahan panas pada evaporator dapat menyebabkan perubahan wujud dari cair menjadi uap.
         Kapasitas evaporator adalah kemampuan evaporator untuk menyerapkan panas dalam periode waktu tertentu sangat ditentukan oleh perbedaan temperature evaporator ( evaporator temperature difference). Uap refrigerant yang terbentuk dievaporator dan merupakan hasil dari proses perpindahan/penyerapan kalor pada media yang akan didinginkan langsung dihisap oleh kompresor, akan tetapi sewaktu proses pengisapan uap refrigerant akan memasuki akumulator yang terletak diantaranya sepanjang saluran keluar evaporator dan saluran masuk kompresor.
 6.4   Akumulator dan Agitator
Akumulator ini terjadinya panas yang akan menghasilkan suatu pendingin terhadap media yang didinginkan didalam bak dudukan evaporator juga dimuat oleh garam. Garam berfungsi sebagai media yang membawa refrigerant untuk mendinginkan air yang ada dalam riskan agar membeku dengan sempurna. Dengan adanya alat ini akan memudahkan pengaturan stock dari total refrigerant.
Gambar 9. Akumulator
Agitator berfungsi sebagai pendorong larutan air garam didalam bak evaporator pada saat mesin sedang dalam proses berjalan,air garam ini akan di dorong oleh agitator dan akan memasuki celah-celah riskan sehingga kembali ketempat semula dan begitulah seterusnya.
Gambar 10. Agitator
6.5     Tabung Amoniak 
                Maka pada saat mengantikan gas amoniak yang telah berkurng dalam refrigerator, perlu dilakukan pengisiannya ulang amoniak kedalam kompresor, dan cara pengisian sama seperti awal pengisian amoniak, hanya saja perlu diperhatikan pada tekanan kompresor agar tidak menimbulkan kerusakan pada kompresor.




 









Gambar 11. Tabung Amoniak

D.         Macam-Macam Kerusakan Pada Mesin Pendingin Kompresi Uap
                Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada mesin pendingin pada umunnya kelistrikan, kalau motor pada saat di hubungkan dengan sumber tidak berputar, maka sebelum mencari kerusakan pada bagian-bagian lain periksalah tegangan pada stop kontak ( dengan menggunakan voltmeter ). Jika tegangan tidak ada mungkin sekring putus atau ada hubungan yang lepas.
Kerusakan yang terjadi pada system pendingin yaitu :
1.      Kompresor
2.      Kondensor
3.      Pipa-pipa kapiler /evaporator
4.      Saringan
5.      Kontrol refrigerant
6.      Refrigerant          : kekurangan refrigeran, kelebihan refrigeran , bocor.








III. PENUTUP


Kesimpulan :
1.      Pembekuan didasarkan pada dua prinsip yaitu 1). Suhu yang sangat rendah menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperlambat aktivitas enzim dan reaksi kimiawi dan 2). Pembentukan kristal es yang menurunkan ketersediaan air bebas di dalam pangan sehingga pertumbuhan mikroorganisme terhambat.
2.      Tiga metode pembekuan cepat tersebut adalah: a) Pembekuan dengan aliran udara dingin (blast freezing), b) Pembekuan dengan alat pindah panas tipe gesekan (scraped heat exchanger), c) Pembekuan kriogenik (cryogenic freezing). 
3.      Komponen-komponen mesin pendingin meliputi : kompresor, kondensor, evaporator, katup ekspansi, saringan, penampung refrigerant.  

















DAFTAR PUSTAKA

Dikti, M.E., 2002. Teknik Pendingin dan Reparasinya. Bumi Aksara, Jakarta.

Firman dkk. 1985. Peluang Usaha Ice Cubees Batu. http://Jualanekamesin.Blogspot.Com/2009/03

Henderson, S. Perry, R. L., Young. J. H., 1997. Principles of Process Engineering. ASAE, U.S.A.

Kulshrestha, S. K., 1989. Termodinamika Terpakai, Teknik Uap dan Panas. UI, Jakarta.

Kusnanto, Joko. 2005. Perancangan Alat Uji Efisiensi Kompresor Refigerasi. http://ms.lib-itb-ac.id/go-phd/id=jbptitnms g dl-si-2005-Joko Kusnan-33

Naganurna, S., A. Mizote & K. Watanabe, 2002. Fourtheenth Symposium on Thermophysical Properties. Colorado, U.S.A.

Stoecker, W. F., 1996. Refrigerasi dan, Pengkondisian Udara. Erlangga, Jakarta.

Yuli Setyo Indarto. 2005. Perkembangan Terkini Teknologi Refrigerasi. http://iptechwordpress.com.htm2juli2009

Zen. 2005. Kulkas Sehat Kulkas Hemat. www.republika.co.id.htm22 Januari 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar