Rabu, 02 Maret 2011

curah hujan dan evaporasi


I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Curah hujan sering disebut dengan presipitasi. Presipitasi adalah air dalam bentuk cair atau padat yang mengendap ke bumi yang selalu didahului oleh proses kondensasi atau sublimasi atau kombinasi keduanya yang sering dinyatakan dalam mm. Uap air merupakan sumber presipitasi seperti hujan dan salju. Jumlah uap air yang terkandung dalam udara merupakan indikator potensi atmosfer untuk terjadinya presipitasi. Kandungan uap air diatmosfer hanya kurang dari 2 % dari total volume di  atmosfer. Kandungan uap air dapat bervariasi antara 0 % hingga 3 % didaerah lintang menengah dan dapat mencapai 4 % di daerah tropika basah.
Ukuran butiran air yang jatuh sebagai hujan akan beragam.  Butiran air yang berdiameter lebih dari 0,5 mm akan sampai ke permukaan bumi dan dikenal sebagai hujan; ukuran butiran antara 0,2 mm sampai 0,5 mm akan juga sampai ke permukaan bumi, dikenal sebagai gerimis (drizzle); sedangkan ukuran butiran yang kurang dari 0,2 mm tidak akan sampai ke permukaan bumi, karena akan menguap dalam perjalanannya menuju permukaan bumi.
Evaporasi (penguapan) terjadi Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfir. Pemanasan air oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda.
Tujuan Pratikum
Pratikum kali ini untuk  mengetahui bagaimana cara mengukur sesuatu yang terjadi pada curah hujan dan evaporasi ( penguapan ) yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang seadanya,serta  mengetahui apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengukuran ini.

II. TINJAUAN PUSTAKA


            Curah hujan dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau unsur-unsur presipitasi yakni pertama,hujan. Hujan adalah butir-butir air yang jatuh ke bumi dalam bentuk cair. Butir-butir hujan mempunyai garis tengah 0,08 – 6 mm. Macam hujan yaitu hujan halus, hujan rintik-rintik dan hujan lebat. Perbedaan terutama pada besarnya butir-butir. Hujan lebat biasanya turun sebentar saja dari awan cumulonimbus. Hujan semacam ini dapat amat kuat dengan intensitas yang besar. Kedua salju, terjadi karena sublimasi uap air pada suhu dibawah titik beku. Bentuk dasar dari slju adalah hexagonal akan tetapi hal ini tergantung dari suhu dan cepatnya sublimasi. Dan yang ketiga, hujan ES. Hujan es jatuh pada waktu hujan guntur dari awan cumulonimbus. Didalam awan terdapat konveksi dari udara panas dan lembab. Dalam udara panas dan lembab yang naik secara konvektif, dan terjadilah sublimasi. Bilamana aliran menjadi lemah, butir-butir air akan turun sehingga sampai pada bahagian bawah, disini mengisap air sehingga sebagian membeku oleh inti yang sangat dingin itu (Handoko, 1986).
Curah hujan dapat diukur dengan alat pengukur curah hujan otomatis atau yang manual. Alat-alat pengukur tersebut harus diletakkan pada daerah yang masih alamiah, sehingga curah hujan yang terukur dapat mewakili wilayah yang luas. Salah satu tipe pengukur hujan manual yang paling banyak dipakai adalah tipe observatorium (obs) atau sering disebut  ombrometer. Curah hujan dari pengukuran alat ini dihitung dari volume air hujan dibagi dengan luas mulut penakar. Alat tipe observatorium ini merupakan alat baku dengan mulut penakar seluas 100 cm2 dan dipasang dengan ketinggian mulut penakar 1,2 meter dari permukaan tanah. ( Jumin, 2002).
Evaporasi merupakan konversi air kedalam uap air. Proses ini berjalan terus hampir tanpa berhenti disiang hari dan kerap kali dimalam hari, perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi, proses tersebut akan sangat aktif  jika ada penyinaran matahari langsung, awan merupakan  penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses evaporasi. Jika uap air menguap ke atmosfer maka lapisan batas antara permukaan tanah dan udara  menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti,agar proses tersebut berjalan terus,lapisan jenuh harus diganti dengan udara kering, pergantian itu hanya mungkin jika ada angina,yang akan menggeser komponen uap air,kecepatan angina memegang peranan penting dalam proses evaporasi. (Wahyuningsih, 2004).
Evaporasi yang terus menerus memerlukan pemindahan uap air dari permukaan sedikit ke atas,tanpa memindahkan udara dekat bumi, udara itu akan jenuh dengan uap air dan evaporasi akan berhenti. Molekul air terus menerus bergerak melewati permukaan air ke atmosfer bumi. Bila jumlah molekul-molekul yang keluar dari permukaan lebih besar dari pada jumlah yang kembali ke permukaan air maka terjadi evaporasi. Pergantian secara netto hanya merupakan sebagian kecil dari jumlahnya (AAK, 1997).






















III. PROSEDUR PERCOBAAN

- Alat Pada Curah Hujan
1. Corong
2. Jerigen
3. Gelas Ukur
4. Rol
- Cara Kerja
1. Diukur luas penampang corong.
2. Air dituangkan kedalam jerigen secukupnya ( sebagai peganti hujan )
3. Tuangkan air didalam jerigen kedalam gelas ukur.
4. Volume air yang tertampung diukur pada gelas ukur.
5. Diulangi sampai 7 kali.
- Alat Pada Evaporasi
1. Baskom ( panci )
2. Rol
- Cara Kerja
1. Dimasukkan air kedalam panci.
2. Diukur tinggi air awal ( Po).
3. Diambil air dari dalam panci secukup nya ( sebagai peganti evaporasi ).
4. Lalu ukur tinggi air akhir ( P 1 ).
5. Diulangi sampai 7 kali.














IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan  
      


Tabel Curah Hujan

No.
Hari (ulangan)
Volume gelas ukur
Curah Hujan
1
Senin (1)
910 cm3
95,8 mm
2
Selasa (2)
800 cm3
84,2 mm
3
Rabu (3)
350 cm3
77,9 mm
4
Kamis (4)
600 cm3
63,1 mm
5
Jumat (5)
590 cm3
62,1 mm
6
Sabtu (6)
500 cm3
52,6 mm
7
Minggu (7)
860 cm3
90,5 mm

Luas penampang corong =  π r2                                              1 ml = 1 cm3 = 10 mm3
                                        =  3,14 . 5,52
                                        =  3,14 . 30,25
                                        =  95 cm2
CH  =   =  9,58 cm =  95,8 mm                       

Grafik 1 . Hubungan CH dengan Hari

           

Tabel Evaporasi
           
No.
Hari (ulangan)
Po
Pi
Eo
CH
1
Senin (1)
26 mm
24 mm
97,8 mm
95,8 mm
2
Selasa (2)
25 mm
24mm
85,2 mm
84,2 mm
3
Rabu (3)
27 mm
24 mm
80,9 mm
77,9 mm
4
Kamis (4)
25 mm
21 mm
67,1 mm
63,1 mm
5
Jumat (5)
26 mm
21 mm
67,1 mm
62,1 mm
6
Sabtu (6)
22 mm
20 mm
54,6 mm
52,6 mm
7
Minggu (7)
21 mm
19 mm
92,5 mm
90,5 mm

Rumus Menghitung Evaporasi :          E 0 =  ( P0 –Pi ) + CH
               
Misalkan pada hari senin :       E0 = ( P0 – Pi ) + CH
                                                     = ( 26 – 24 ) + 95,8 mm
                                                     =  97,8 mm

Grafik 2 . Hubungan Eo dengan Hari :

           







Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat kita cermati dimana dalam 1 ( satu ) minggu itu curah hujannya yang rendah terjadi pada hari sabtu sebesar 52,6 mm dan pada hari – hari berikutnya curah hujannya semakin deras. Ini menunjukkan bahwa pada curah hujan yang terjadi bisa menyebabkan banjir, karena curah hujan dari hari ke hari semakin deras.
Hal di atas adalah hanya replika semata dari keadaan yang sebenarnya, karena pada praktikum ini praktikan tidak langsung terjun kelapangan untuk mengukur curah hujan karena faktor teknis. Praktikum hanya dilakukan dengan pengandalian air dalam jerigen sebagai replika.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pratikum curah hujan dan evaporasi ini adalah syarat pemasangan dalam ketinggian alat pada 120 cm dari permukaan tanah sampai mulut corong,ini dikarnakan supaya menghindari dari gangguan hewan yang dapat merusak alat dan menghindari dari percikan air yang sampai ketanah. Serta corong yang digunakan dalam alat penakar hujan tipe observatorium adalah supaya air yang ditampung bisa masuk secara maksimal dan mengurangi penguapan.
Curah hujan merupakan sumber air utama untuk pemenuhan kebutuhan air tanaman,yang perlu diperhatikan :Total curah hujan,Intensitas hujan,Distribusi hujan dan Ketepatan waktu hujan.












V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengamatan diatas adalah :
1.      besarnya curah hujan yang dihasilkan setiap harinya tidak dapat dipastikan, kadang naik dan bisa juga turun. Ini semua tergantung pada evaporasi yang terjadi,kelembaban suatu daerah, tiupan angin,letak daerah tersebut dan faktor-faktor lainnya.
2.      Semakin banyak panas yang diterima maka semakin tinggi evaporasi yang dihasilakan dan begitu juga sebaliknya. Ini semua dipengaruhi oleh besar   kecilnya pengaruh penyinaran matahari yang diterima,sehingga ikut mempengaruhi jumlah penguapan yang dihasilkan.
3.      Berarti hubungan antara curah hujan dan evaporasi berbanding berbanding terbalik dimana jika evaporasinya besar mak curah hujannya kecil begitu juga sebaliknya sehingga terbukti bahwa dalam waktu satu minggu terjadi defisit air, yaitu nilai evaporasinya lebih tinggi dibanding curah hujan.
























DAFTAR PUSTAKA


AAK. 2003. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. PT Kanisius. Yogyakarta.

Handoko. 1994. Klimatologi Dasar. PT Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.

Jumin dan Basri,Hasan. 2002. Agroekologi Suatu Pendekatan Fisiologi.
           PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Utami,Wahyuningsih. 2004. Geografi. Pabelan. Jakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar